FSAB Minta Hentikan Konflik dan Jangan Menambah Konflik Baru

Radarpolitik.com, Jakarta – Ketua Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) Suryo Susilo menyerukan agar kedua pihak yang kalah/menang Pilkada DKI Jakarta untuk melakukan rekonsiliasi dan jangan membuat konflik baru, dengan praktek-praktek perang opini, maupun aksi-aksi.

“Mestinya setelah Pilkada selesai, urusannya adalah membangun kerjasama untuk Jakarta yang lebih baik lagi ke depannya,” kata Suryo Susilo di Malangbong, Garut (16/5/2017).

Suryo menilai, hingga saat ini terasa masih ada perang opini yang menjurus kepada perpecahan anak bangsa, karena itu pemerintah dan tokoh-tokoh harus bersatu padu untuk mendukung rekonsiliasi dan menghentikan potensi konflik.

Suryo Susilo menyampaikan hal itu saat acara Silaturahmi dan Bakti Sosial FSAB kepada Yayasan “Suffah 47” yang dipimpin oleh Sardjono Kartosoewirjo, putra mantan tokoh DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Suryo memimpin rombongan FSAB yang terdiri dari Catherine (putripahlawan revolusi DI Panjaitan), Poppy Anasari (putri Murad Aidit, adik tokoh PKI DN Aidit), Martinus Johan Mosi (keturunan Tionghoa, korban kerusuhan Mei ’98), dan yang lainnya.

Mereka terlihat sangat akrab walaupun dulu orang tua mereka dan pengikutnya terlihat konflik, bahkan saling membunuh. Sebenarnya, mereka memiliki alasan yang kuat untuk saling membenci dan membalas dendam, namun tidak dilakukan.

“Kegiatan silaturahmi dan dialog yang berkali-kali, mereka sepakat untuk berhenti mewariskan konflik, dan tidak membuat konflik baru, dengan bergabung di FSAB,” kata Suryo.

Koordinator kegiatan FSAB Martis mengatakan sebagai orang Tionghoa dan non muslim, dirinya merasa sangat diterima, dan dapat berkomunikasi, serta berinteraksi sangat baik di pesantren milik Sardjono Kartosoewirjo.

“Jadi memang tidak ada masalah dan tidak perlu dibuat masalah mengenai perbedaan suku dan agama atau SARA di Indonesia, sejauh kita bisa saling menghormati dan mau bekerjasama,” katanya.

Pengurus FSAB lainnya Faisal Saleh mengatakan, waktu Pilkada DKI Jakarta juga mendukung pasangan yang berbeda. Tapi setelah Pilkada selesai, tidak ada lagi pertentangan diantara mereka.

Sementara itu salah satu pendiri FSAB Djoko Purwongemboro menambahkan meskipun mereka yang berasal dari keluarga yang dulu bersebrangan ideologi, namun semuanya meyakini bahwa Pancasila adalah ideologi yang tepat untuk bangsa Indonesia, bukan ideologi yang lain. (bud)