Kejujuran dan Kesederhanaan Bripka Seladi, Bikin Kepincut Petinggi KPK

Radarpolitik.com, Jakarta – Keteladanan dan kejujuran Bripka Seladi, anggota polisi di Polres Malang Kota, ternyata mencuri perhatian pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK berencana memberikan penghargaan kepada Seladi.

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarief memgatakan, apabila memenuhi kriteria, rencananya KPK akan memberikan penghargaan kepada Seladi. Hal itu sebagai bentuk apresiasi KPK kepada tokoh yang dijadikan contoh gerakan antikorupsi.

“Ada rencana, sedang ditugaskan tim untuk melakukan verifikasi mengenai Pak Seladi. Kalau betul, akan diberikan penghargaan,” kata Syarief kepada Wartawan, seperti dikutip Halloapakabar.com, jumat (20/5)

Bripka Seladi menjadi dikenal publik setelah kisah hidup mengenai keteladanannya ditulis oleh media. Demi mendapatkan uang sampingan, Seladi menyambi pekerjaan menjadi pengumpul sampah. Selain bisa mendapatkan uang halal dari pekerjaan keduanya, pria berusia 57 tahun ini juga membantu dalam menciptakan kebersihan lingkungan.

Ketika berdinas menjadi polisi, ia bertugas pada bagian urusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Polres Malang Kota yang berada di Jalan Dr Wahidin. Ia menegaskan, dirinya tidak mau tergiur meskipun berdinas di lahan yang selama ini dikenal sebagai lahan “basah” di institusi kepolisian.

Seladi mengaku tidak mau menerima pemberian orang dengan tujuan tertentu dalam pengurusan SIM. Kalau pun ada yang memberi di rumah, kata Seladi, ia meminta sang anak mengembalikan pemberian itu.

Ia menegaskan, dirinya tidak mau tergiur meskipun berdinas di lahan yang selama ini dikenal sebagai lahan “basah” di institusi kepolisian. Seladi mengaku tidak mau menerima pemberian orang dengan tujuan tertentu dalam pengurusan SIM. Kalaupun ada yang memberi di rumah, kata Seladi, ia meminta sang anak mengembalikan pemberian itu.

Prinsip hidupnya itu ia ajarkan kepada sang anak. Lulusan SMEA di Malang itu mengajari anaknya, Rizal Dimas (21), etos kerja keras, halal, dan tanpa perasaan minder. Setiap hari, sang anak membantunya memilah sampah. Lulusan D-2 Informartika Universitas Negeri Malang (UM) itu juga tidak jijik memilah sampah.

“Saya tidak minder memiliki ayah yang polisi, tetapi juga tukang rongsokan. Ini pekerjaan halal. Saya malah bangga karena ayah mengajari tentang kerja jujur,” katanya. Ketika masih ada anggapan miring tentang polisi, Rizal berani menyodorkan bahwa sang ayah merupakan polisi yang patut dicontoh.

Karena itu, Rizal tetap ingin menjadi seorang polisi. Tahun ini merupakan tahun ketiganya mencoba peruntungan ke kepolisian. Ia sudah dua kali gagal ketika mendaftar menjadi polisi. Rizal mengakui, tidak ada bantuan lobi dari sang ayah supaya lolos. Tahun ini, ia kembali akan mendaftar.

Sementara itu, salah satu pekerjanya, Yani, melihat Seladi sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. “Bapak itu kalau tidak dinas ya bekerja di sini. Kalau ada tugas ngepam (pengamanan, red), kayak ngepam Arema tanding kemarin, ya tidak bisa nyortir sampah,” ujarnya. (roy/rdp)