Rusuh di Lapas Jurnalis Diintimidasi, Polisi Hanya Minta Maaf

Radarpolitik.com, Jakarta – Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar meminta maaf atas kejadian terhadap salah satu pewarta foto yang meliput kebakaran di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Banceuy, Bandung.

Boy mengatakan, sejak kerusuhan terjadi di lapas pada Sabtu (23/4), penjagaan di lokasi memang diperketat. “Mohon maaf atas peristiwa tersebut, semoga ke depan bisa saling menghormati tugas masing-masing,” ujar Boy melalui pesan singkat, Senin (25/4).

Ia memperkirakan, mungkin ada alasan tertentu mengapa petugas di sana melarang awak media mengabadikan kondisi di dalam lapas yang sudah dalam kondisi hancur serta banyak korban luka. “Biasanya pertimbangan keamanan di TKP, perlu dipahami oleh masyarakat,” kata Boy, seperti dikutip Halloapakabar.com.

Sebelumnya, dalam surat yang beredar dari Aliansi Jurnalis Indonesia di Bandung, disebutkan bahwa pewarta foto media online nasional mengalami intimidasi oleh petugas di lapas Banceuy. Ia dipaksa menghapus foto-foto hasil jepretannya di bawah ancaman. Fotografer bernama Ibenk itu masuk ke dalam lapas bersamaan dengan masuknya rombongan pengamanan dari kepolisian dan Brimob.

Di lorong-lorong lapas, ia mengabadikan beberapa narapidana yang tergeletak dan mengalami luka.  Ketika hendak keluar lapas, ada petugas yang memerintahkan agar Ibenk ditahan dan berusaha merebut kameranya. Foto-foto di kameranya pun dihapus oleh petugas. Sebelum keluar lapas, seorang anggota Brimob memotret kartu pers dan foto wajah Ibenk.

Meski demikian, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly mengaku adanya unsur pemaksaan dalam pemeriksaan, napi yang meninggal di Lembaga Pemasyarakatan Narkoba Kelas II A, Banceuy, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/4) pagi.

Yasonna mengatakan pemaksaan ini didorong oleh kekhawatiran para penjaga yang harus memastikan bahwa narapidana bebas dari barang ilegal. “Petugas saya berpikir nanti mati aku ini. Kamu enggak bisa bersihin, kamu yang bertanggungjawab. Ini membuat psikologis mereka panik, lalu (Undang) ditarik, diperiksa, ada indikasi dengan pemaksaan supaya mengaku,” kata Yasonna di Gedung Direktorat Jenderal Imigrasi, Minggu (24/4).

Yasonna menyebut bahwa pemaksaan itu tidak diwarnai dengan tindak kekerasan dari petugas lapas, namun hanya “colek-colek” biasa. “Ya forced, dipaksa mengaku ada sedikit colek-colek. Tidak ada penyiksaan, beda. Apalah ditempeleng, biasalah ada hal itu,” ujar Yasonna sambil memeragakan gerakan menampar pipi.

Yasonna menegaskan bahwa pemeriksaan yang ketat wajar dilakukan, mengingat ketakutan pihak lapas yang terancam dicopot jika kecolongan. Ia pun mengatakan, pihak Lapas Banceuy tidak akan dikenakan sanksi apabila bekerja sesuai prosedur. “Saya sudah katakan kalau Anda bekerja benar, sungguh-sungguh, sesuai protap, kalau ada sedikit kesalahan saya lindungi,” kata Yasonna.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenkumham Jabar I Wayan Sukerta menyebut dalam prosedur tetap, tidak diperbolehkan bagi petugas lapas untuk melakukan kekerasan terhadap narapidana. “Enggak boleh, tapi dalam melakukan pemeriksaan dengan kondisi seperti ini mungkin dia ini tidak mengaku. Yang memeriksa juga manusia, yang diperiksa juga manusia, emosi ada pemukulan sehingga ada kekerasan, tapi bukan penyebab meninggalnya,” kata Sukerta. Maka pihak Ditjen Pemasyarakatan pun akan melakukan pemeriksaan internal terhadap petugas Lapas Banceuy dalam waktu dekat. (ded/rdp)