Setelah Santoso Tewas, Tantangan Suhardi Adalah Tangkap Gembong Teroris

Irjen Suhardi Alius

Radarpolitik.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo menunjuk Komjen Pol Suhardi Alius sebagai kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pengganti Jenderal Tito Karnavian. Hal itu pun diakui Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan.

Luhut menuturkan, penunjukan Suhardi atas rekomendasi dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Suhardi dinilai memiliki kompetensi dan kredibilitas sebagai kepala BNPT.

“Suhardi Alius akan dilantik hari ini Rabu (20/7/2016). Pukul 09.30 WIB (di Istana Negara) di Istana Kepresidenan. Soal lainnya ya tanya Pak Kapolri, itu dia timbang dan diusulkan. Kami usulkan dan Presiden setuju, ya kami lantik,” ujar kader Golkar berdarah Medan ini kepada Halloapakabar.com, Selasa (18/7/2016)

Pelantikan Suhardi akan dilakukan bersamaan dengan pelantikan kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. Namun, pengganti Roy Sparingga ini masih dirahasiakan pihak Istana. “Tunggu besok aja,” ucap Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Sekadar diketahui, Suhardi pernah menjabat sebagai sekretaris utama Lemhannas menggantikan Boy Salamuddin, sejak 16 Januari 2015. Sebelumnya, dia menjabat sebagai kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri .

Jabatan kabareskrim dia emban sejak 24 November 2013 hingga 16 Januari 2015 menggantikan Komjen Pol Sutarman yang terpilih menjadi kapolri. Seiring penunjukannya sebagai Kabareskrim, Suhardi menjadi angkatan 1985 pertama yang sudah mampu menembus pangkat jenderal bintang tiga.

Suhardi juga sempat menjabat sebagai kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri. Dia juga pernah menjadi kepala Polda Jawa Barat menggantikan Irjen Pol Tubagus Anis Angkawijaya sejak Juni 2013 hingga November 2013.

Terkait dengan pelantikan Komjen Suhardi Alius menjadi Kepala BNPT, setelah ditinggal Tito Karnavian, Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai, masuknya Suhardi ke BNPT menunjukkan gerbong Kapolri baru Jenderal Tito Karnavian mulai bergerak, meski Tito baru beberapa hari menjadi pimpinan Kepolisian.

Suhardi adalah angkatan muda di Polri. Lulusan Akpol 85 ini memang belum pernah bertugas di Densus 88 Anti Teror. Tapi Suhardi pernah menjabat sebagai Kabareskrim dan dia “tersingkir” menjadi Sekretaris Utama Lemhanas pasca konflik KPK-Polri. Dengan tampilnya sebagai Kepala BNPT bintang Suhardi kembali bersinar.

“Namun tantangan Suhardi di BNPT tergolong berat, terutama dengan tewasnya tokoh teroris Santoso di Poso, bukan mustahil akan ada serangan balasan dari para teroris. Antisipasi serangan inilah yang harus dilakukan dengan maksimal oleh BNPT,” jelas Neta.

Dengan bergesernya Suhardi terlihat komposisi “kabinet” Tito Karnavian
di Polri sepertinya akan mengandalkan “duet Akpol 87 dan 85”. Tak heran jika berkembang kabar bahwa calon kuat yang akan menggantikan Wakapolri Komjen Budi Gunawan adalah Komjen Syafruddin, Akpol 85 yang kini menjabat Kalemdikpol. Meskipun kelompok Solo menjagokan Wakaba Intelkam Irjen Lufthi sebagai Wakapolri, tapi tampaknya usul ini akan ditolak, dengan alasan Wakapolri harus dijabat perwira berpangkat Komjen senior.

Pergeseran di tubuh Polri ini juga membuat Budi Gunawan akan mendapat pangkat Jenderal, dengan posisinya sebagai Kepala BIN. Budi sendiri sudah empat kali dipanggil Presiden Jokowi, sepertinya pergantian posisi Wakapolri ini akan bersamaan dengan pergantian 16 menteri pada reshuffle tahap dua, yang akan berlangsung akhir Juli ini. (ru/eko/rdp)